Minggu, 17 September 2017

jual Beli Muathah




الثالث ـ مذهب الشافعية والشيعة والظاهرية (2) : لا تنعقد العقود بالأفعال أو بالمعاطاة لعدم قوة دلالتها على التعاقد؛ لأن الرضا أمر خفي، لا دليل عليه إلا باللفظ، وأما الفعل فقد يحتمل غير المراد من العقد، فلا يعقد به العقد، وإنما يشترط أن يقع العقد بالألفاظ الصريحة أو الكنائية، أو ما يقوم مقامها عند الحاجة كالإشارة المفهمة أو الكتابة. ونظراً لما يشتمل عليه هذا المذهب من تشدد وشكلية محدودة ومجافاة لمبدأ المرونة والسماحة واليسر، فقد اختار جماعة من الشافعية منهم النووي والبغوي والمتولي، صحة انعقاد بيع المعاطاة في كل ما يعده الناس بيعاً، لأنه لم يثبت اشتراط لفظ، فيرجع للعرف كسائر الألفاظ المطلقة، وبعض الشافعية كابن سريج والرُّوياني خصص جواز بيع المعاطاة بالمحقَّرات أي غير النفيسة: هي ما جرت العادة فيها بالمعاطاة كرطل خبز، أو رغيف، وحزمة بقل ونحوها
__________
(2) مغني المحتاج: 3/2 ومابعدها، المهذب: 257/1، المختصر النافع في فقه الإمامية: ص142، المحلى لابن حزم: 404/8،

Madzhab Syafi’iyyah, Syi’ah dan Zhohiriyyah :
Sebuah transaksi tidak terjadi dengan perbuatan atau dengan mu’aathah (serah terima tanpa perkataan) karena tidak kuatnya bukti hal tersebut menjadi sebuah transaksi karena kerelaan adalah hal samar yang tidak dapat dijadikan bukti kecuali dengan ucapan sedang perilaku terkadang tidak sesuai kehendak hingga menjadikan ikatan kuat dari sebuah transaksi…

Namun sebagian kalangan Syafiiyyah seperti Imam Nawaawy, al-Baghaawy, al-Mutawally menyatakan sahnya jual beli secara mu’aathah dalam setiap hal yang dipandang masarakat umum sudah dikatakan transaksi jual beli karena tidak terdapat dalil nash yang mensyaratkan dibutuhkan sebuah ucapan dalam terjadinya transaksi karenanya segalanya dikembalikan pada kebiasaan orang pada umumnya.

Sebagian kalangan syafi’iyyah lainnya seperti Ib Suraij dan ar-Rauyaani membatasi dibolehkannya jual beli secara mu’aathah sebatas hal-hal yang dianggap remeh oleh khalayak umum seperti ukuran sekati roti, seikat sayur mayor dan lain-lain. (Mughni al-Muhtaaj II/3, al-Muhaddzab I/257, Mukhtashar an-naafi’ al-Imaamiyyah hal. 142, al-Mahalli Ibn hazm VIII/404
Al-Fqh al-Islaam IV/452-453
Wallaahu A'lamu Bis Showaab

NASIHAT YANG BENAR


#EDUKASI_Santri
[ AKHLAQ ]

BUKAN KARENA NASEHATMU TIDAK BAIK, TAPI CARAMU MENASEHATI YANG KURANG BAIK. *[bener nanging kurang pener]

Memang ajaran agama sangat menganjurkan untuk saling menasehati, selaras dengan ucapan الدين النصيحة ( pokok dari ajaran agama adalah saling menasehati) , sebab sudah menjadi fitrah manusia bahwa dia tidak akan pernah luput dari kesalahan.

Ada bait sya’ir  dari Imam Syafi’i Rahimahullah tentang cara menasihati orang lain agar nasihat kita mudah diterima.

Imam Syafi’i Rahimahullah berkata :

تعمدني بنصحك في انفرادي ….. وجنبني النصيحة في الجماعة

Datanglah kepadaku untuk menasihatiku tatkala aku seorang diri. *[Untuk bahasa sekarang lewat japri]

Janganlah menasihatiku di hadapan khalayak ramai. *[Jangan lewat postingan]

فإن النصح بين الناس نوع ….. من التوبيخ لا أرضى استماعه

Karena menasihatiku di hadapan orang lain merupakan bagian dari menjelek-jelekkanku,

Aku tidak akan ridha mendengar seperti itu.

وإن خالفتني وعصيت قولي ….. فلا تجزع إذا لم تعط طاعه

Jika engkau enggan dan tidak mau menuruti perkataanku.

Maka janganlah kaget jika nasihatmu tidak ditaati.

*arti kekinian.

PAHAM JHONN.....?

Kamis, 14 September 2017

Senioritas di Organisasi

Senioritas 
Banyak sekali senioritas di organisasi,bukan hanya disekolah,tapi,dimana-mana oleh karena itu banyak orang enggan mengikuti organisasi,umumnya mereka menganggap, mentang-mentang oarang lama,mereka lebih berkuasa, lebih tahu, lebih bisa, ketimbang anak baru, 11-12 dengan OSPEK, 
Apa nggak malu.. .
Beraninya sama anak kecil

Sabtu, 09 September 2017

Sekolah & Organisasi, manakah yang lebih penting?

Organisasi adalah suatu perkumpulan orang yang berkumpul dalam suatu wadah tertentu ,di Era Globalisasi ini,organisasi menjadi suatu hal yg penting ,untuk mewadahi suatu aspirasi & menyatukan beberapa elemen masyarakat,tidak dipungkiri lagi bahwa organisasi adalah suatu perkumpulan yg Benar-Benar dibutuhkan manusia di zaman ini. 
Sekolah juga menjadi wadah penting juga untuk menaungi sikap pemberontak anak agar lebih stabil perkembangannya, dari kecil hingga besar kita bersekolah supaya kita bisa mengetahui yang baik dan yang benar. 
Lantas, manakah yang lebih penting? Penulis berpendapat ke duanya penting, tapi lebih penting sekolah, karena sekolah hukumnya wajib pake banget,
 sesuai hadist nabi:طلب العلم فريضة على كل مسلم وزاد الامام مسلم (ومسلمة
Penulis dulu juga pernah nyantri di salah satu pesantren, dalam kitab ta'limul muta'allim diterangkan, ilmu adalah yang segala2 nya, yg pertama wajib dipelajari ilmu manusia adalah ilmu syari'at, dari sesuci dst....
Boleh, kalian berorganisasi, asal bisa bagi waktu, jangan yang wajib ditinggalkan demi yang sunnah apa nggak malu sama Allah? 
Terkadang pemuda-pemuda zaman ini salah kaprah mengenai organisasi, mereka ber anggapan organisasi adalah yang utama, selain organisasi,tidak penting. Ketika diingatkan mereka selalu menampik pernyataan seperti itu, mereka selalu mencari sensasi, dan keketenaran, mereka nggak mikir,hiidup itu maju bukannya mundur
Mereka rela disekolah tidur/tidak masuk sekolah, karena kemarin ada acara organisasi. Harusnya kamu malu, jangan berbangga diri
Sekarang banyak organisasi massa silahkan masuk, asal jangan aneh2
Selamat Berorganisasi kawan2