Kamis, 21 Juni 2018

Sejarah Halal Bi Halal

Halal Bi Halal
                    

 

      Penggagas istilah *_"Halal Bi Halal"_* ini adalah KH. Abdul Wahab Chasbullah, beliau juga adalah salah satu sang Perintis, Pendiri dan Penggerak Nahdlatul 'Ulama (NU). Ceritanya begini: Setelah Indonesia Merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun. <>

     Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH. Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya 'Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

"Itu gampang", kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah _'Halal Bi Halal'_", jelas Kiai Wahab.

     Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya 'Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul _'Halal Bi Halal'_ dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

     Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan _Halal Bi Halal_ yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para 'ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah _Halal Bi Halal_ sebagai kegaitan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya 'Idul Fitri seperti sekarang.

      Kalau kegiatan _Halal Bi Halal_ sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah 'Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

      Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah. akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah _"Halal Bi Halal"_, meskipun esensinya sudah ada.

       Tapi istilah _"Halal Bi Halal"_ ini secara nyata dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (Thalabu Halâl Bi Tharîqin Halâl) adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua (Halâl "Yujza'u" Bi Halâl) adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

_Wallahul Muwafiq ila Aqwamith Thoriq._

*KH. Masdar Farid Mas’udi*
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul 'Ulama (PBNU)

Kamis, 05 Oktober 2017

dzikir dan membaca Al-Qur'an dimalam hari


Melakukan zikir kepada Allah atau membaca al-Qur'an, kedua-duanya adalah amalan yang dianjurkan (sunat). Namun jika amalan ini dilakukan sehingga mengganggu ketenteraman orang lain; seperti orang yang sedang beribadah, sedang tidur dan sebagainya maka ia menjadi haram.

Imam Malik r.h telah meriwayatkan bahawa al-Bayadhiyyi r.a telah berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِْ وَسَلَّمْ خَرَجَ عَلَى النَّاسِ وَهُمْ يُصَلُّو نَ وَقَدْ عَلَتْ أَصْوَا تُهُمْ بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ: أَنَّ الْمُصَلِّي يُنَا جِيْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يُنَاجِِيْهِ وَلاَ يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَىَ بَعْضٍ بِالْقِرْ آنِ.

"Bahawa Rasulullah s.a.w pada suatu ketika keluar kepada orang ramai. Didapatinya ramai orang bersolat dan ramai pula yang mengeraskan (meninggikan) suara mereka dalam membaca al-Qur’an. (Melihat yang demikian) Maka Rasulullah s.a.w bersabda:

"Sesungguhnya orang yang sedang bersolat itu sedang munajat atau berkomunikasi dengan Tuhannya ‘Azza wa Jalla, maka seharusnya dia mengetahui apa yang diperkatakannya itu! Dan janganlah pula sebahagian kamu mengeraskan suara melebihi yang lainnya dalam membaca al-Qur'an." - H/R Ahmad dalam Musnad Ahmad (no. 19022).

Dalam riwayat Abu Daud (no. 1332) ada disebutkan:

أعْتَكَفَ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِْ وَسَلَّمْ فِيْ الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُوْنَ بِا الْْقِرَاءِة فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ أَلاَّ اِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلاَ يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلاَ يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَىَ بَعْضٍ فِيْ الْْقِرَاءِةِ أَوْ قَالَ فِيْ الصًّلاَةِ.

Rasulullah s.a.w memerhatikan orang-orang yang beriktikaf di masjid dan baginda mendengar mereka menguatkan suara mereka sewaktu membaca al-Qur'an. Baginda menyelak kain langsir dan berkata:

"Setiap daripada kamu sedang berkomunikasi dengan Tuhannya. Janganlah sebahagian daripada kamu mengganggu yang lainnya. Janganlah kamu menguatkan suara kamu melebihi yang lainnya sewaktu membaca al-Qur'an atau ketika kamu sedang solat."

Ibnu 'Abd al-Bar r.h berpendapat bahawa kedua-dua hadis di atas ini adalah hadis yang sahih.

"Ini membuktikan bahawa meninggikan suara membaca al-Qur'an sehingga mengganggu orang lain adalah suatu yang ditegah oleh agama.



Berkata Ibnu Taimiyyah r.h (728H):

"Tidak seseorang pun mengganggu orang dalam masjid atau orang (yang sedang mengerjakan) solat, membaca al-Qur’an, zikir, doa dan semisalnya. Sebab, masjid dibangun untuk mendirikan amal-amal tersebut. Tidak boleh seseorang pun mengerjakan sesuatu yang boleh dapat mengganggu mereka, baik dalam masjid, di pintu masjid atau tempat yang dekat dengan masjid.

Nabi pernah keluar menemui para sahabat yang sedang solat dan membaca dengan suara yang jahr (keras), baginda bersabda (yang bermaksud): Wahai manusia, masing-masing dari kamu sedang bermunajat pada Rabbnya. Hendaknya kamu tidak saling mengeraskan bacaan.

Apabila Nabi telah melarang orang solat mengeraskan bacaan (mengganggu) orang lain yang sedang solat juga, bagaimana dengan lainnya?

Barangsiapa yang mengerjakan sesuatu yang mengganggu orang dalam masjid atau mengerjakan sesuatu yang mengarah pada hal itu maka hendaklah ia dilarang.

Wallahu ‘alam."

Minggu, 17 September 2017

jual Beli Muathah




الثالث ـ مذهب الشافعية والشيعة والظاهرية (2) : لا تنعقد العقود بالأفعال أو بالمعاطاة لعدم قوة دلالتها على التعاقد؛ لأن الرضا أمر خفي، لا دليل عليه إلا باللفظ، وأما الفعل فقد يحتمل غير المراد من العقد، فلا يعقد به العقد، وإنما يشترط أن يقع العقد بالألفاظ الصريحة أو الكنائية، أو ما يقوم مقامها عند الحاجة كالإشارة المفهمة أو الكتابة. ونظراً لما يشتمل عليه هذا المذهب من تشدد وشكلية محدودة ومجافاة لمبدأ المرونة والسماحة واليسر، فقد اختار جماعة من الشافعية منهم النووي والبغوي والمتولي، صحة انعقاد بيع المعاطاة في كل ما يعده الناس بيعاً، لأنه لم يثبت اشتراط لفظ، فيرجع للعرف كسائر الألفاظ المطلقة، وبعض الشافعية كابن سريج والرُّوياني خصص جواز بيع المعاطاة بالمحقَّرات أي غير النفيسة: هي ما جرت العادة فيها بالمعاطاة كرطل خبز، أو رغيف، وحزمة بقل ونحوها
__________
(2) مغني المحتاج: 3/2 ومابعدها، المهذب: 257/1، المختصر النافع في فقه الإمامية: ص142، المحلى لابن حزم: 404/8،

Madzhab Syafi’iyyah, Syi’ah dan Zhohiriyyah :
Sebuah transaksi tidak terjadi dengan perbuatan atau dengan mu’aathah (serah terima tanpa perkataan) karena tidak kuatnya bukti hal tersebut menjadi sebuah transaksi karena kerelaan adalah hal samar yang tidak dapat dijadikan bukti kecuali dengan ucapan sedang perilaku terkadang tidak sesuai kehendak hingga menjadikan ikatan kuat dari sebuah transaksi…

Namun sebagian kalangan Syafiiyyah seperti Imam Nawaawy, al-Baghaawy, al-Mutawally menyatakan sahnya jual beli secara mu’aathah dalam setiap hal yang dipandang masarakat umum sudah dikatakan transaksi jual beli karena tidak terdapat dalil nash yang mensyaratkan dibutuhkan sebuah ucapan dalam terjadinya transaksi karenanya segalanya dikembalikan pada kebiasaan orang pada umumnya.

Sebagian kalangan syafi’iyyah lainnya seperti Ib Suraij dan ar-Rauyaani membatasi dibolehkannya jual beli secara mu’aathah sebatas hal-hal yang dianggap remeh oleh khalayak umum seperti ukuran sekati roti, seikat sayur mayor dan lain-lain. (Mughni al-Muhtaaj II/3, al-Muhaddzab I/257, Mukhtashar an-naafi’ al-Imaamiyyah hal. 142, al-Mahalli Ibn hazm VIII/404
Al-Fqh al-Islaam IV/452-453
Wallaahu A'lamu Bis Showaab

NASIHAT YANG BENAR


#EDUKASI_Santri
[ AKHLAQ ]

BUKAN KARENA NASEHATMU TIDAK BAIK, TAPI CARAMU MENASEHATI YANG KURANG BAIK. *[bener nanging kurang pener]

Memang ajaran agama sangat menganjurkan untuk saling menasehati, selaras dengan ucapan الدين النصيحة ( pokok dari ajaran agama adalah saling menasehati) , sebab sudah menjadi fitrah manusia bahwa dia tidak akan pernah luput dari kesalahan.

Ada bait sya’ir  dari Imam Syafi’i Rahimahullah tentang cara menasihati orang lain agar nasihat kita mudah diterima.

Imam Syafi’i Rahimahullah berkata :

تعمدني بنصحك في انفرادي ….. وجنبني النصيحة في الجماعة

Datanglah kepadaku untuk menasihatiku tatkala aku seorang diri. *[Untuk bahasa sekarang lewat japri]

Janganlah menasihatiku di hadapan khalayak ramai. *[Jangan lewat postingan]

فإن النصح بين الناس نوع ….. من التوبيخ لا أرضى استماعه

Karena menasihatiku di hadapan orang lain merupakan bagian dari menjelek-jelekkanku,

Aku tidak akan ridha mendengar seperti itu.

وإن خالفتني وعصيت قولي ….. فلا تجزع إذا لم تعط طاعه

Jika engkau enggan dan tidak mau menuruti perkataanku.

Maka janganlah kaget jika nasihatmu tidak ditaati.

*arti kekinian.

PAHAM JHONN.....?

Kamis, 14 September 2017

Senioritas di Organisasi

Senioritas 
Banyak sekali senioritas di organisasi,bukan hanya disekolah,tapi,dimana-mana oleh karena itu banyak orang enggan mengikuti organisasi,umumnya mereka menganggap, mentang-mentang oarang lama,mereka lebih berkuasa, lebih tahu, lebih bisa, ketimbang anak baru, 11-12 dengan OSPEK, 
Apa nggak malu.. .
Beraninya sama anak kecil

Sabtu, 09 September 2017

Sekolah & Organisasi, manakah yang lebih penting?

Organisasi adalah suatu perkumpulan orang yang berkumpul dalam suatu wadah tertentu ,di Era Globalisasi ini,organisasi menjadi suatu hal yg penting ,untuk mewadahi suatu aspirasi & menyatukan beberapa elemen masyarakat,tidak dipungkiri lagi bahwa organisasi adalah suatu perkumpulan yg Benar-Benar dibutuhkan manusia di zaman ini. 
Sekolah juga menjadi wadah penting juga untuk menaungi sikap pemberontak anak agar lebih stabil perkembangannya, dari kecil hingga besar kita bersekolah supaya kita bisa mengetahui yang baik dan yang benar. 
Lantas, manakah yang lebih penting? Penulis berpendapat ke duanya penting, tapi lebih penting sekolah, karena sekolah hukumnya wajib pake banget,
 sesuai hadist nabi:طلب العلم فريضة على كل مسلم وزاد الامام مسلم (ومسلمة
Penulis dulu juga pernah nyantri di salah satu pesantren, dalam kitab ta'limul muta'allim diterangkan, ilmu adalah yang segala2 nya, yg pertama wajib dipelajari ilmu manusia adalah ilmu syari'at, dari sesuci dst....
Boleh, kalian berorganisasi, asal bisa bagi waktu, jangan yang wajib ditinggalkan demi yang sunnah apa nggak malu sama Allah? 
Terkadang pemuda-pemuda zaman ini salah kaprah mengenai organisasi, mereka ber anggapan organisasi adalah yang utama, selain organisasi,tidak penting. Ketika diingatkan mereka selalu menampik pernyataan seperti itu, mereka selalu mencari sensasi, dan keketenaran, mereka nggak mikir,hiidup itu maju bukannya mundur
Mereka rela disekolah tidur/tidak masuk sekolah, karena kemarin ada acara organisasi. Harusnya kamu malu, jangan berbangga diri
Sekarang banyak organisasi massa silahkan masuk, asal jangan aneh2
Selamat Berorganisasi kawan2

Selasa, 18 Juli 2017

PP. ihya'ussunnah Assaniyyah

IHYA'USSUNNAH ASSANIYYAH (IHSAN) 



       PP. Ihya'ussunnah Assaniyyah awalnya adalah musholla, yg disebut langgar wetan, yang merupakan  Musholla ke 3 di desa loram kulonkulon. Kemudian oleh KH.M KH. M. Masyhuri bin KH. Abdul Ghoni sekitar tahun 1950an. Pondok ini menyatu dengan Musholla Ihya’ussunnah yang sudah berdiri puluhan tahun sebelumnya.

Pondok ini kemudian dibangun dan diteruskan oleh kakak Kiai Masyhuri yang juga petinggi pertama desa Loram Kulon, yaitu KH. M. Ihsan beserta kedua anaknya, KH. M. Najib dan KH. M. Tholhah. Selain ngaji pondok, di musholla ini juga menyelenggarakan Sekolah Arab Miftahul Ulum yang bertempat di langgar dan paseban (balai desa) petinggi. Sekolah ini menjadi cikal bakal madrasah yang ada, yang dikembangkan di kemudian hari bersama tokoh masyarakat dan ulama setempat.

Musholla ini juga menjadi pusat organisasi kepemudaan di daerah Jati seperti IPNU dan GP. Anshor. Setelah wafatnya KH. M. Tholhah dan KH. M. Ihsan dan kemudian KH. M. Najib, ngaji di langgar dilanjutkan oleh Kiai Musta’in Sahal bin H. Ahsin dan beberapa waktu kemudian oleh Kiai M. Liwauddin dan Ustadz M. Ishlahul Umam, Ustadz M. In’amullah dan Ustadz M. Abul Fadhli. Telah banyak alumninya yang menjadi kiai, tokoh masyarakat, dosen, guru, pengusaha, dan orang yang bermanfaat bagi orang lain.